Tentang Diriku

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia

Jumat, Mei 30, 2014

Solo, Mei 2014


Solo, Mei 2014

Rencana jalan-jalan kali ini berawal dari pernikahan teman baik aku dan pacarku, Kak Andri dan Kak Dhita. Mereka adalah teman baik kami sejak kuliah di salah satu universitas terbaik di Bogor. Tahun ini, akhirnya mereka akhirnya melangsungkan pernikahan setelah sekian lama pacaran. Solo pun menjadi tempat yang terpilih karena itu adalah daerah asal Kak Dhita. Saya dan pacar sangat bersemangat untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Ehm, selain karena pernikahan, kami juga lebih bersemangat lagi karena bisa sekalian jalan-jalan. :D (oops..) Rencana awal kami sempat batal karena ada urusan di kantor yang tidak bisa ditunda, tetapi puji Tuhan, akhirnya urusan kantor tersebut dipindah tanggal. Jadilah saya bisa ikut ke Solo.

Berangkatlah saya bersama calon pengantin pada tanggal 23 Mei 2014 pukul 08.00 WIB dari Stasiun Gambir dengan menumpang kereta Argo Dwipangga. Harga tiket Gambir-Solo (Balapan) adalah IDR 270.000 (fantastis bukan?! gak dapet makan lho.. Jadi bersusah payah nahan laper. Hanya roti sobek dan chiki yang jadi teman perjalanan :| ). Ini karena saya terlambat memesan tiket karena urusan kantor tersebut. Kereta itu dasarnya sangat nyaman. Kursi bisa diatur sehingga tidur bisa lebih nyenyak selama perjalanan dan badan tidak pegal-pegal. Kami tiba di Solo pukul 16.00 WIB. Hal yang lebih mencengangkan adalah saya belum memesan hotel untuk menginap karena hotel yang tadinya ingin saya tuju (Hotel Putri Sari, Solo) mengatakan bahwa saya tidak perlu booking hotel, bisa langsung datang saja. Hm.. Alhasil Kak Dhita jadi cemas dan menawarkan untuk menginap di rumahnya. Sebenarnya agak tidak enak juga karena kan namanya calon pengantin pasti akan banyak urusan yang harus diurus. Namun, dompet berkata lain. Jadilah aku menginap di rumah sang calon pengantin. Di luar perkiraan, ternyata tidak banyak kegiatan yang Kak Dhita lakukan malam itu dan sambutan keluarganya begitu hangat. Senang sekali! Langsung disambut rawon buatan kakak ipar Kak Dhita. Uenak...! >.< Temanku yang lain baru sampai Solo pada esok harinya dan pacar beserta temannya pada hari berikutnya lagi. Kebayang kan betapa aku merasa terbantu dengan tumpangan ini. Selain hemat, aku juga gak kesepian dan gak kebingungan mau apa.

Keesokannya (24/05), temanku Irin sudah sampai di Solo. Untungnya, Kak Dhita dan keluarga juga mau mengantar Kak Andri ke Klaten, jadi aku juga ikut diantar ke hotel untuk ketemu Irin. Supaya dekat dengan Irin, aku memutuskan untuk mencari hotel yang dekat dengan hotel tempat Irin menginap (karena pacarnya, Kak Rendrat, sudah booking hotel untuk dia). Tadinya aku kira gak ada hotel lain selain hotel tempat Irin menginap (Hotel Tiara Puspita) karena sebelum ke Solo, aku sudah browsing dan hasilnya nama hotel yang murah letaknya tidak di jalan yang sama dengan hotel Tiara Puspita itu. Untungnya, Irin sampai duluan di hotelnya dan dia melihat ada beberapa hotel murah di sebelahnya. Setelah bertanya, jadilah aku menginap di hotel sebelahnya yaitu Hotel Puspita (0271-716421). Namanya mirip-mirip tapi penampakannya cukup berbeda sih. Hehehe… Namanya juga hotel murah. Ada 2 tipe kamar yang aku tahu, ber-AC dan ber-kipas angin. Tarif untuk kamar ber-AC adalah IDR 120.000 (dapat snack pagi) sedangkan untuk kamar ber-kipas angin adalah IDR 90.000.

Kamar di Hotel Puspita

Kamar mandi hotel
Tarif seperti itu sudah cukup murah lho. Kamar cukup luas dengan kasur besar untuk 2 orang (kasur kapuk), cermin, tv, handuk, selimut, sabun, kamar mandi dalam, dan satu termos air panas. Di pagi hari, hotel menyuguhkan snack pagi untuk dua orang. Masing-masing mendapat segelas teh manis hangat, satu sosis solo, dan satu lontong. Harga sewa per malam dibayarkan tunai di awal check-in, masih sangat tradisional ya.. Hal lain yang menarik dari hotel ini adalah pintunya yang otomatis terkunci dari luar dan kunci kamar hanya dipegang oleh penjaga hotel. Jadi, sebaiknya jangan meninggalkan barang berharga di dalam kamar. Selain masalah kunci, hal lain yang kurang enak adalah lantai kamar yang kurang bersih. Hal itu bias diakali dengan membawa sandal kamar yang tipis sih. Meskipun begitu, hotel ini masih tergolong memuaskan.
 
Snack pagi
Kembali lagi pada petualangan saya dan Irin pada hari Sabtu yang terik itu. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan meski di antara kami tidak ada yang benar-benar mengenal Solo. Perjalanan pun dimulai dengan menaiki becak menuju Kampung Batik Laweyan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel, sekitar 1 km. Becak di Solo pun menarik karena merupakan becak wisata, hamper seluruh tukang becak menawarkan pelayanan lebih yakni sebagai “pemandu wisata dadakan”. Ya, kami seperti merasa sedikit dipaksa untuk berkeliling dengan becaknya, padahal kami hanya ingin menumpang sampai ke Kampung Batik Laweyan tanpa perlu ditunggu untuk diantar ke tempat lain. Hm, sedikit kurang nyaman. Setelah keliling 3 butik (butik lho.. harganya maknyus!), kami berhasil meloloskan diri. Hahaha…

Dari Kampung Batik, kami lanjut naik angkot warna kuning 01A tujuan Pasar Klewer dengan tekad mau cari batik murah. Sudah jauh-jauh ke Solo, pusat batik, masak masih dapat yang mahal?! Angkot tersebut melewati PGS (Pusat Grosir Solo) yang merupakan “Mangga Dua”nya Solo. Pusat grosir batik. Keliling selama berjam-jam, tidak ada batik yang cocok. Akhirnya kami berjalan kaki kurang lebih 10 menit ke Pasar Klewer. Luar biasa, benar-benar pasar! Pasar ini cukup luas dan isinya beraneka ragam tetapi isinya tetap didominasi batik. Dan… masih saja tidak menemukan batik idaman. Akhirnya, aku hanya membelikan adikku jaket batik. Entah berapa harga pasarannya, tapi jaket itu aku beli dengan harga IDR 145.000. Semoga bukan harga yang mahal untuk sebuah jaket. Setelah berkeliling dan gak tahu mau ke mana lagi, kami berkeliling mencari makanan. Aku ingin sekali mencoba tengkleng asli Solo. Anehnya, makanan khas Solo berupa sup dengan isi daging, jeroan, dan tulang kambing ini tidak banyak yang jual. Hanya ada satu penjual, Tengkleng “Bu Edi” di dekat gapura Klewer. Wah… Senangnya bukan main. Memang sebuah keberuntungan kami masih bias mencicipi tengkleng di warung ini karena warungnya sangat ramai (bayangkan saja, mulai jualan pukul 13.00, dagangan habis pukul 14.30!). Harga tengkleng cukup terjangkau yakni IDR 20.000. Sedap sekali dan banyak isinya. Sangat mengenyangkan.
Tengkleng "Bu Edi", Pasar Klewer
Keraton menjadi tujuan kami selanjutnya. Letaknya tidak jauh dari Pasar Klewer. Niat untuk melihat kemegahan Keraton Kasunanan Surakarta pupus seketika ketika kami hendak membeli tiket tapi ternyata sudah tutup (saat itu baru pukul 14.45). Sudah kehabisan ide tempat wisata, kami akhirnya memutuskan pulang ke hotel. Malamnya, kami mencoba mencari kuliner khas Solo di dekat hotel untuk makan malam kami. Tidak jauh dari hotel, ada warung yang menjual gudeg dan lain sebagainya, namanya Warung “Bu Yanti”. Ada menu yang menarik yakni bubur lemu. Aku dan Irin mencoba bubur lemu dengan ditambah sayur gudeg dan telur, khusus aku, aku menambahkan babat. Yummy!! Enak dan mengenyangkan lho walau hanya bubur. Bubur lemu ini adalah bubur yang dimasak dengan menambahkan santan ke dalamnya. Harga bubur lemu plus es teh tawar IDR 16.000.

Keesokan paginya, pacarku dan Kak Rendrat sampai di Solo dan kami siap menghadiri pernikahan Kak Andri dan Kak Dhita. Dimulai di Gereja St.Petrus Purwosari kemudian dilanjutkan ke nDalem Tjokrosoemartan. Ini adalah pertama kali aku mendatangi pesta pernikahan dengan tata cara Katolik dan Jawa yang sangat kental. Namun, sayangnya kesyahduan misa pernikahan ini agak berkurang karena musik yang dimainkan kurang “gerejawi”. Di luar hal itu, senang melihat kebahagiaan pasangan baru ini. :)


Kak Andri dan Kak Dhita sebelum mengucap janji pernikahan

Usai misa pemberkatan, aku, pacar, Irin, dan Kak Rendrat kemudian berangkat ke tempat resepsi. Seperti yang aku sebut, pernikahan ini begitu kental akan adat Jawa. Aku senang bisa menghadiri pernikahan ini karena ini memberiku pengetahuan bagaimana pernikahan adat Jawa dilangsungkan. Hal yang paling mengena adalah narasinya yang panjang :D.
 
Pelaminan
Selamat untuk kedua mempelai!

Usai pernikahan ini, kami isi waktu kami dengan berjalan-jalan keliling kota, ke Pasar Klewer lagi, dan ke toko roti yang cukup fenomenal, Orion. Malamnya, kami sudah harus kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta ekonomi Matarmaja dari stasiun Solo Jebres. Kereta ekonomi ini cukup murah, kalau tidak salah harganya berkisar di IDR 50.000. Selain fasilitas yang berbeda dari kelas eksekutif, waktu tempuh pun lebih lama. Kami berangkat dari Solo pukul 22.31 dan sampai di Stasiun Pasar Senen, Jakarta pukul 09.30. Perjalanan pulang yang cukup melelahkan karena kursinya tidak bisa diatur untuk kenyamanan masing-masing orang. Harga memang menentukan ya..

Akhir kata, kami pun harus kembali ke aktivitas kami masing-masing dan menabung kembali untuk perjalanan selanjutnya. Semoga tulisan ini bermanfaat, terutaman bagi kalian yang ingin berkunjung ke Solo. Good day!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar