Solo, Mei 2014
Rencana jalan-jalan kali ini berawal dari
pernikahan teman baik aku dan pacarku, Kak Andri dan Kak Dhita. Mereka adalah
teman baik kami sejak kuliah di salah satu universitas terbaik di Bogor. Tahun
ini, akhirnya mereka akhirnya melangsungkan pernikahan setelah sekian lama
pacaran. Solo pun menjadi tempat yang terpilih karena itu adalah daerah asal
Kak Dhita. Saya dan pacar sangat bersemangat untuk menghadiri acara pernikahan
mereka. Ehm, selain karena pernikahan, kami juga lebih bersemangat lagi karena
bisa sekalian jalan-jalan. :D (oops..) Rencana awal kami sempat batal karena
ada urusan di kantor yang tidak bisa ditunda, tetapi puji Tuhan, akhirnya
urusan kantor tersebut dipindah tanggal. Jadilah saya bisa ikut ke Solo.
Berangkatlah saya bersama calon pengantin pada
tanggal 23 Mei 2014 pukul 08.00 WIB dari Stasiun Gambir dengan menumpang kereta
Argo Dwipangga. Harga tiket Gambir-Solo (Balapan) adalah IDR 270.000 (fantastis
bukan?! gak dapet makan lho.. Jadi bersusah payah nahan laper. Hanya roti sobek
dan chiki yang jadi teman perjalanan :| ). Ini karena saya terlambat memesan
tiket karena urusan kantor tersebut. Kereta itu dasarnya sangat nyaman. Kursi
bisa diatur sehingga tidur bisa lebih nyenyak selama perjalanan dan badan tidak
pegal-pegal. Kami tiba di Solo pukul 16.00 WIB. Hal yang lebih mencengangkan
adalah saya belum memesan hotel untuk menginap karena hotel yang tadinya ingin
saya tuju (Hotel Putri Sari, Solo) mengatakan bahwa saya tidak perlu booking
hotel, bisa langsung datang saja. Hm.. Alhasil Kak Dhita jadi cemas dan
menawarkan untuk menginap di rumahnya. Sebenarnya agak tidak enak juga karena
kan namanya calon pengantin pasti akan banyak urusan yang harus diurus. Namun,
dompet berkata lain. Jadilah aku menginap di rumah sang calon pengantin. Di
luar perkiraan, ternyata tidak banyak kegiatan yang Kak Dhita lakukan malam itu
dan sambutan keluarganya begitu hangat. Senang sekali! Langsung disambut rawon
buatan kakak ipar Kak Dhita. Uenak...! >.< Temanku yang lain baru sampai
Solo pada esok harinya dan pacar beserta temannya pada hari berikutnya lagi.
Kebayang kan betapa aku merasa terbantu dengan tumpangan ini. Selain hemat, aku
juga gak kesepian dan gak kebingungan mau apa.
Keesokannya (24/05), temanku Irin sudah sampai di
Solo. Untungnya, Kak Dhita dan keluarga juga mau mengantar Kak Andri ke Klaten,
jadi aku juga ikut diantar ke hotel untuk ketemu Irin. Supaya dekat dengan
Irin, aku memutuskan untuk mencari hotel yang dekat dengan hotel tempat Irin
menginap (karena pacarnya, Kak Rendrat, sudah booking hotel untuk dia). Tadinya
aku kira gak ada hotel lain selain hotel tempat Irin menginap (Hotel Tiara
Puspita) karena sebelum ke Solo, aku sudah browsing dan hasilnya nama hotel
yang murah letaknya tidak di jalan yang sama dengan hotel Tiara Puspita itu.
Untungnya, Irin sampai duluan di hotelnya dan dia melihat ada beberapa hotel
murah di sebelahnya. Setelah bertanya, jadilah aku menginap di hotel sebelahnya
yaitu Hotel Puspita (0271-716421). Namanya mirip-mirip tapi penampakannya cukup
berbeda sih. Hehehe… Namanya juga hotel murah. Ada 2 tipe kamar yang aku tahu,
ber-AC dan ber-kipas angin. Tarif untuk kamar ber-AC adalah IDR 120.000 (dapat
snack pagi) sedangkan untuk kamar ber-kipas angin adalah IDR 90.000.
![]() |
| Kamar di Hotel Puspita |
![]() |
| Kamar mandi hotel |
Tarif seperti itu sudah cukup murah lho. Kamar
cukup luas dengan kasur besar untuk 2 orang (kasur kapuk), cermin, tv, handuk,
selimut, sabun, kamar mandi dalam, dan satu termos air panas. Di pagi hari,
hotel menyuguhkan snack pagi untuk dua orang. Masing-masing mendapat segelas
teh manis hangat, satu sosis solo, dan satu lontong. Harga sewa per malam
dibayarkan tunai di awal check-in, masih sangat tradisional ya.. Hal lain yang
menarik dari hotel ini adalah pintunya yang otomatis terkunci dari luar dan
kunci kamar hanya dipegang oleh penjaga hotel. Jadi, sebaiknya jangan
meninggalkan barang berharga di dalam kamar. Selain masalah kunci, hal lain
yang kurang enak adalah lantai kamar yang kurang bersih. Hal itu bias diakali
dengan membawa sandal kamar yang tipis sih. Meskipun begitu, hotel ini masih
tergolong memuaskan.
![]() |
| Snack pagi |
Kembali lagi pada petualangan saya dan Irin pada
hari Sabtu yang terik itu. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan meski di antara
kami tidak ada yang benar-benar mengenal Solo. Perjalanan pun dimulai dengan menaiki
becak menuju Kampung Batik Laweyan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel,
sekitar 1 km. Becak di Solo pun menarik karena merupakan becak wisata, hamper
seluruh tukang becak menawarkan pelayanan lebih yakni sebagai “pemandu wisata
dadakan”. Ya, kami seperti merasa sedikit dipaksa untuk berkeliling dengan
becaknya, padahal kami hanya ingin menumpang sampai ke Kampung Batik Laweyan
tanpa perlu ditunggu untuk diantar ke tempat lain. Hm, sedikit kurang nyaman.
Setelah keliling 3 butik (butik lho.. harganya maknyus!), kami berhasil
meloloskan diri. Hahaha…
Dari Kampung Batik, kami lanjut naik angkot warna
kuning 01A tujuan Pasar Klewer dengan tekad mau cari batik murah. Sudah jauh-jauh
ke Solo, pusat batik, masak masih dapat yang mahal?! Angkot tersebut melewati
PGS (Pusat Grosir Solo) yang merupakan “Mangga Dua”nya Solo. Pusat grosir
batik. Keliling selama berjam-jam, tidak ada batik yang cocok. Akhirnya kami
berjalan kaki kurang lebih 10 menit ke Pasar Klewer. Luar biasa, benar-benar
pasar! Pasar ini cukup luas dan isinya beraneka ragam tetapi isinya tetap
didominasi batik. Dan… masih saja tidak menemukan batik idaman. Akhirnya, aku
hanya membelikan adikku jaket batik. Entah berapa harga pasarannya, tapi jaket
itu aku beli dengan harga IDR 145.000. Semoga bukan harga yang mahal untuk
sebuah jaket. Setelah berkeliling dan gak tahu mau ke mana lagi, kami
berkeliling mencari makanan. Aku ingin sekali mencoba tengkleng asli Solo. Anehnya,
makanan khas Solo berupa sup dengan isi daging, jeroan, dan tulang kambing ini
tidak banyak yang jual. Hanya ada satu penjual, Tengkleng “Bu Edi” di dekat
gapura Klewer. Wah… Senangnya bukan main. Memang sebuah keberuntungan kami
masih bias mencicipi tengkleng di warung ini karena warungnya sangat ramai
(bayangkan saja, mulai jualan pukul 13.00, dagangan habis pukul 14.30!). Harga
tengkleng cukup terjangkau yakni IDR 20.000. Sedap sekali dan banyak isinya.
Sangat mengenyangkan.
![]() |
| Tengkleng "Bu Edi", Pasar Klewer |
Keesokan paginya, pacarku dan Kak Rendrat sampai
di Solo dan kami siap menghadiri pernikahan Kak Andri dan Kak Dhita. Dimulai di
Gereja St.Petrus Purwosari kemudian dilanjutkan ke nDalem Tjokrosoemartan. Ini
adalah pertama kali aku mendatangi pesta pernikahan dengan tata cara Katolik
dan Jawa yang sangat kental. Namun, sayangnya kesyahduan misa pernikahan ini
agak berkurang karena musik yang dimainkan kurang “gerejawi”. Di luar hal itu,
senang melihat kebahagiaan pasangan baru ini. :)
Usai misa pemberkatan, aku, pacar, Irin, dan Kak
Rendrat kemudian berangkat ke tempat resepsi. Seperti yang aku sebut,
pernikahan ini begitu kental akan adat Jawa. Aku senang bisa menghadiri
pernikahan ini karena ini memberiku pengetahuan bagaimana pernikahan adat Jawa
dilangsungkan. Hal yang paling mengena adalah narasinya yang panjang :D.
Selamat untuk kedua mempelai!
Usai pernikahan ini, kami isi waktu kami dengan
berjalan-jalan keliling kota, ke Pasar Klewer lagi, dan ke toko roti yang cukup
fenomenal, Orion. Malamnya, kami sudah harus kembali ke Jakarta dengan
menumpang kereta ekonomi Matarmaja dari stasiun Solo Jebres. Kereta ekonomi ini
cukup murah, kalau tidak salah harganya berkisar di IDR 50.000. Selain
fasilitas yang berbeda dari kelas eksekutif, waktu tempuh pun lebih lama. Kami
berangkat dari Solo pukul 22.31 dan sampai di Stasiun Pasar Senen, Jakarta
pukul 09.30. Perjalanan pulang yang cukup melelahkan karena kursinya tidak bisa
diatur untuk kenyamanan masing-masing orang. Harga memang menentukan ya..
Akhir kata, kami pun harus kembali ke aktivitas
kami masing-masing dan menabung kembali untuk perjalanan selanjutnya. Semoga
tulisan ini bermanfaat, terutaman bagi kalian yang ingin berkunjung ke Solo.
Good day!








Tidak ada komentar:
Posting Komentar